
Asrama itu adalah hadiah Tuhan untuk Semprul. Ketika bapaknya menginginkan ia menjadi seorang gembala Tuhan, ia mengiyakannya. Ketika ia lulus tes dan dinyatakan diterima di asrama, ia menyanggupinya. Seolah panggilan itu nyata dan menggelora dalam dirinya. Malam itu, genap 6 bulan ia melewatkan malam-malamnya ditempat tidur kayu beralas tikar pandan itu. Kutu tikar dibawah bantal tipis yang menemaninya selalu membisikkan “Prul… mantapkah kau menjalani panggilan ini?” disaat ia gundah. Digelutinya kata hatinya. Si Kutu dan Si Kupret tiada henti menguji panggilan Semprul. Hanya Tuhan yang sungguh baik yang memberikan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengevaluasi diri di asrama ini. Terimakasih Tuhan namun si Kutu dan si Kupret selalu saja menggoda kekuatan panggilanmu. Sepertinya panggilan Semprul laksana kacang yang masih muda dan berair, yang akan susut ketika dijemur…
Keputusan meninggalkan asrama adalah keputusan dangkal yang nekat diambil Semprul. Si Kutu dan si Kupret telah menelanjanginya dan membuatnya menyerah! Ia menyesal, menangis dan meronta, dan memohon maaf kepada Tuhan. Sulit rasanya menghilangkan kenangan hidup singkat diasrama itu. Pergolakan iman dan batinnya tak kunjung usai meski ia sudah satu tahun bersekolah disebuah SMA Partikelir. Suatu malam, sama sunyinya dengan 18 bulan lalu, angin yang sama menusuk tulangnya. Kali ini, ia ditemani oleh seskoli minuman api yang telah menggantikan kacang bawang Ibunya. Ia teringat malam di asrama dan berikrar lirih : “Ya Tuhan, maaf telah mengabaikan panggilan suciMu, namun perkenankanlah hambamu yang hina ini untuk tetap setia berkarya, berkarya dan terus berkarya dalam namaMu. Jika bapakku dahulu menginginkan aku menjadi gembala, maka sekarang aku ingin kau jadikan aku sebagai pembantu gembala. Sisihkan sedikit domba bagiku Tuhan agar aku tetap bisa mengikuti jejakMu dan tetap menuntun gembala yang sedikit itu …”
Kini, Semprul sudah dewasa dan memiliki keturunan. Ujarnya kepada Tuhan : “Tuhan ajarkan kepadaku agar aku selalu mendoakan siapa saja –tak terkecuali saudara-saudariku, bahkan keturunanku – agar kelak satu diantara mereka meneruskan panggilanMu untuk berkarya diladang anggurmu”.
Bukalah Buku Madah Bakti No 307 (Lagu : Kami Peziarah), No 456 ( Lagu : Panggilan Tuhan Bagi Umatnya), dan No 465 (Lagu : Aku Dengar Bisikan Suaramu). Cobalah nyanyikan dan hayati baris-demi baris. Lagu dasyat tersebut terasa sangat indah dan menenteramkan hati.
Mari kira dukung misi Minggu Panggilan ini dengan berdoa dan memohon agar tunas-tunas panggilan tumbuh subur dilingkungan gereja kita tercinta. AMIN
End – Dikisahkan kembali oleh Fr. Karyo Sanyoto.