Sunday, April 12, 2009

Paskah

*) Oleh : Bp. A. Joko Sukirno
“ SELAMAT HARI PASKAH ”
Paskah (bahasa Yunani: Paskha)
adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen mula-mula hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.
Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)
Minggu Paskah bukan perayaan yang sama, namun masih berhubungan dengan, Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: Pesakh) dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.
Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.
Sumber : Wikipedia

Thursday, March 19, 2009

Gerakan Dirigen, Birama dan Tempo

Gerakan Dirigen, Birama dan Tempo
Beberapa waktu lalu, dalam sebuah latihan koor ala Ant-IV, ada seorang rekan yang bersiskusi masalah ketuk mengetuk dengan Ibu Agus (dirigen). Bersadarkan ilmu pakem musik (yang juga sudah benar dilakukan oleh Ibu Agus), berikut beberapa hal simple dan umum yang patut kita hafalkan :
Gerakan Birama 2/2 atau Two-two times: walk tempo.
Gerakan Birama 3/4 atau Three-four times: waltz tempo.
Gerakan Birama 4/4 atau Four-four times: quick tempo.
Gerakan Birama cepat (6/8 dst) atau Quick tempo: very quick tempo.(jarang digunakan)

Berikut gambar gerakan tangannya :

Mengenai Tempo / jumlah ketukan (dalam bahasa Inggris biasa disebut Beat per minute / BPM) dapat dibagi menjadi :

Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 40 - 60 Istilah Largo
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 60 - 66 Istilah Larghetto
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 67 – 76 Istilah Adagio
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 77 – 108 Istilah Andante
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 109 – 120 Istilah Moderato
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 121 – 168 Istilah Allegro
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 169 – 200 Istilah Presto
Jumlah Ketukan Dalam Satu Menit 200 - 208 Istilah Prestissimo

Ketukan sangat mempengaruhi kecepatan (tempo) lagu. Makin besar angka ketukan yang tertulis, berarti cara menyanyikannya harus semakin epat. Demikian berlaku sebaliknya. Untuk mempelajari jenis tersebut diatas, paling enak melihat kiri atau kanan atas sebuah teks lagu, yang dengan jelas selalu menunjukkan birama dan tempo… Selamat mencoba (Kar San)

Monday, March 9, 2009

MARI BERTANGGUNGJAWAB ..... !

*) Oleh A. Joko Sukirno
Terbentuknya keluarga sebagai Gereja Kecil atau umat basis kecil diharapkan membuat umat basis di paroki semakin kokoh, dan persaudaraan di tengah masyarakat semakin subur sehingga kepedulian terhadap masalah nasional juga muncul. Kerusakan lingkungan hidup seperti gundulnya hutan, tanah longsor, banjir dan naiknya panas bumi dll, hanya dapat diatasi kalau kita semua bertanggungjawab. Gerakan ketenagakerjaan, penghijauan, peresapan air dan mengelola sampah supaya bergun, memang gerakan kecil. Namun itu mengingatkan akan tanggungjawab kita terhadap kehidupan social, politik yang lebih luas ( Surat Gembala Prapaska 2009)

PUASA DAN PANTANG (WWW.GEOCITIES.COM)
PUASA?
Puasa adalah salah satu bentuk penyangkalan diri. Orang-orang kristen menyangkal diri dalam hal makanan, minuman, tidur atau kesenangan. Bukan karna tubuh itu jahat atau tubuh itu harus dihukum melainkan :
1. Sebagai suatu bentuk doa permohonan kepada Allah
2. Untuk mengingatkan kita akan kebaikan Allah dan ketergantungan kita yang total kepadaNya.
3. Untuk melepaskan diri kita sementara waktu dari sesuatu hal yang baik dari dunia ini agar lebih dapat berpusat kepada Allah dan untuk mendengarkan Dia berbicara kepada kita dengan lebih jelas. ( Mk 2:13-20 ; Kis 13:2 ; 14:23 ; 2Kor 11:27).
Penguasaan diri yang berasal dari praktek penitensi ini membebaskan kita untuk mengikuti Allah dengan lebih mudah.

PANTANG?
Untuk tidak makan daging selama beberapa waktu lamanya. Ini meupakan ciri penyangkalan diri yang khusus. ( Bisa ditambahan juga bahwa pantang adalah tidak makan atau minum atau tidak melakukan hal-hal yang menjadi kegemaran an kesukaan atau kebiasaan untuk merasa puas diri dan senang )
SILIH? Silih adalah perbuatan penyangkalan diri atau mati raga tidak hanya dalam makanan melainkan juga dalam bidang-bidang yang lain. Itu juga termasuk doa dan perbuatan cinta, khususnya memberi derma, yaitu uang kepada mereka yang berkebutuhan. ( Biasanya dengan intensi/maksud tertentu mis. silih atas dosa-dosa pribadi atau untuk pertobatan orang berdosa ).

Bilamanakah orang-orang Katolik itu harus berpuasa?
Orang-orang Katolik didorong untuk lebih bertanggungjawab dalam hal ini dan menjalankan silih dengan sukarela. Pedoman puasa dan pantang untuk masa prapaska menetapkan hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai hari pantang dan puasa dan semua hari Jumat dalam masa prapaska sebagi hari silih. Namun demikian hukum kanon yang baru masih mendorong orang-orang Katolik untuk berpuasa secara sukarela pada setiap hari Jumat.

Sunday, July 6, 2008

Letih Lesu Berbeban Berat : [Was : Roso – roso]

Letih Lesu Berbeban Berat : [Was : Roso – roso]

Homili Romo Dominikus padaMisa Sabtu Sore 05 Juli sungguh menyentuh hati. Injil Matius 11: 28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” diterjemahkan Romo nyaris sempurna. Romo mengajak setiap umat untuk tetap setia bertahan, dan tidak berputus asa dalam menjalani kehidupan yang terasa berat. Dijaman yang serba sulit seperti sekarang, ribuan orang makin hari makin merasa terbebani oleh kehidupannya sendiri. Homili kembali menyadarkan kita, bahwa Yesus sendiri akan selalu membuka diri bagi siapa saja yang datang dan merasa diri memikul beban berat. Beberapa kasus kehidupan dikisahkan oleh Romo. Kisah kisah tersebut nampaknya berujung kepada kebuntuan manusia, namun karena sikap pasrah dan berharap kepada Tuhan, maka Tuhan memberikan penyelesaian yang terkadang diluar akal sehat manusia. Semuanya diselesaikan oleh Tuhan dalam potret yang menarik.

Dalam point 5 Surat Gembala Kardinal yang kemarin disematkan dalam Warta Lingkungan Antonius IV, Bapak Kardinal juga mengajak kita agar selalu bersikap solider dan bahu membahu saling bantu dengan siapa saja yang berkekurangan. Sedang dalam point ke 3, Bapak Kardinal mengajak kita agar tetap kembali menjadikan rumah sebagai gereja dan pusat kegiatan iman seluruh anggota keluarga. Ditutup dengan “In Nomine Jesu”, Bapak Kardinal seolah kembali mengajak kita untuk mengenyahkan segala keraguan akan kekuatan dan campur tangan Tuhan. Mustahil di mata manusia, namum tidak mustahil dimata Tuhan, begitulah kira-kira.

Mari, siapapun yang merasa letih, lesu dan berbeban berat, yakinlah…Tuhan akan selalu menyertai. Seperti ajakan Mbah Maridjan, Mari..Kuat dan tabahlah…Mari…Roso!! Roso!!
Kagem Mbah Maridjan, matur nuwun awit pangajak lan panyengkuyung panjenengan. Mugi panjenengan kaparingan bagas kasarasan, binerkahan in Gusti lan panjang yuswo. Matur Nuwun. (KarSan)

Thursday, June 19, 2008

Korupsi Oh Korupsi

Siapa yang tidak mengetahui kiprah Artalyta Suryani (AS). Khalayak ramai mempergunjingkan obrolan Ibu paruh baya ini dengan para petinggi Kejagung. Obrolan heboh yang berhasil disadap KPK dan diperdengarkan di pengadilan ini dipastikan tak akan meleset untuk menjerat para pelaku obrolan kedalam penjara. Saking hebohnya, beberapa orang yang kreatif menjadikan obrolan ini sebagai ringtone ataupun nada tunggu. Bujubuneng.

Dalam transkrip obrolan AS yang dilansir media, terdapat bagian saat Pak Jaksa merengek “Mbak, tambahin ya…tambahin.”. Yang dimaksud tentu adalah minta tambahan dari apa yang dijanjikan AS. Saat tertangkap basah, hasil rengekan tersebut disebut sebagai pemecah rekor suap yang tertangkap tangan oleh KPK yaitu senilai lebih dari Rp 6,6 M.


Jika beberapa waktu lalu kalangan DPR geram dengan lirik lagu Gossip Jalanan bait kelima perihal UUD, maka sepertinya Ibu AS rupanya senang dan menghayati banggetz dengan bait ketiganya :Ada yang tau mafia peradilan / Tangan kanan hukum di kiri pidana / Dikasih uang habis perkara


Korupsi Oh korupsi…Saat rakyat makin sengsara, korupsi merajalela, para petinggi yang seharusnya menjadi panutan dan pengayom malah menjadi obyek penerima suap. Pak Amin Rais bahkan pernah berkomentar, godaan terbesar bagi para anggota pemerintahan saat ini adalah UFE (Unidentified Flying Envelopes) yang beterbangan diruang sidang, beterbangan dilobi-lobi, dan berserakan dilaci-laci pejabat. Suap-menyuap sudah menjadi makan pagi-siang-malam bagi para pelakunya. Seolah-olah kegiatan ini sudah mendarah daging dan membudaya di negeri ini. Kejujuran menjadi barang yang sangat-sangat mahal. Sosiolog George J. Aditjondro yang gencar melacak kekayaan hasil korupsi menggarisbawahi, bahwa korupsi sudah sedemikian parah dan dibentuk menjadi budaya baru. Korupsi bahkan disejajarkan dengan bahaya laten.

Dalam kehidupan sehari-haripun kita seringkali dihadapkan pada situasi, yang (mungkin) menyudutkan kita pada situasi yang menggoda dan menggoyahkan kejujuran. Sebagai umat Allah, marilah kita mencoba dalam diri masing-masing untuk tetap setia dalam bisikan Tuhan. Ya Tuhan, semoga Engkau selalu menuntun umatMu kedalam jalan yang lurus. Thanks, Tuhan! (KarSan)



Tuesday, May 20, 2008

Kejepit dan (akhirnya) Bangkit !

Kejepit dan (akhirnya) Bangkit !
Oleh : Fr Karyo Sanyoto

Tanggal 19 Mei ini beberapa kantor melibatkan diri dalam kegiatan HarPITnas (Hari Kejepit Nasional) sehingga meliburkan diri karena tanggal tersebut dijepit hari libur. Tanggal 20 Mei ini bangsa kita memperingati HarKITnas (Hari Kebangkitan Nasional). Peringatan Harkitnas menjadi istimewa karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya Organisani Budi Utomo (1908) yang diyakini sebagai organisasi awal Kebangkitan Nasional menuju sebuah bangsa merdeka. Budi Utomo sendiri didirikan oleh para mahasiswa Stovia yang dimotori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Sutomo. Pada zaman itu, para mahasiswa merasa terjepit oleh situasi dibawah tekanan penjajahan, dimana kemerdekaan dan kemajuan adalah mimpi yang tidak mungkin tercapai. Oleh karenanya, mereka bangkit dengan mendirikan organisasi pergerakan yang mencita citakan kemerdekaan. Semangat inilah yang kini diresapi dan diproklamirkan oleh Presiden kita - Bapak SBY sebagai slogan “Indonesia Bisa”

Sebagai umat Allah yang ber-belarasa, kiranya momen kejepit dan bangkit harus mendapatkan porsi untuk kita renungkan. Kondisi perekonomian yang (jika mau mengakui) menuju kearah resesi membuat banyak masyarakat terjepit dalam situasi kehidupan yang sulit. Banyak bermunculan kasus kelaparan, kasus rebutan bantuan, kasus kasus kriminal yang pangkalnya masalah pangan, kasus bunuh diri karena tidak kuat menahan beban hidup, kasus pendidikan yang biayanya tidak dapat dijangkau, dan seabreg abreg kasus kehidupan yang menyengsarakan. Kondisi-kondisi tersebut tak jarang membuat seseorang menyerah dan akhirnya menjauhkan diri dari doa dan Tuhan. Jika seseorang sudah menjauhkan diri dari Tuhan karena masalah duniawi, maka kebangkitan akan menjauhinya. Yesus wafat dan (akhirnya) bangkit karena Yesus menyerahkan segala sesuatunya kepada Bapa-Nya disurga. Penyerahan total oleh Yesus merupakan awal kebangkitan-Nya. Maka, langkah merefleksikan, mensyukuri dan menyerahkan segala kesulitan hidup kepada Tuhan adalah langkah nyata umat Allah menuju kebangkitan dari keter-jepit-an kehidupan.

Di akhir rubrik Parodi di harian Kompas Minggu, 18 Mei 2008, kolumnis Samuel Mulia merumuskan bahwa ada-nya Tuhan adalah karena manusia mencarinya dan mencoba menemukannya, dan bukan sebaliknya. Dikisahkan dalam cerita yang dituturkan kembali oleh Jeung Samuel, seorang tukang cukur berkata kepada langganannya bahwasanya Tuhan itu tidak ada. Pada saat selesai bercukur, langganan itu keluar dan menemukan seorang yang sangat lusuh gembel lengket yang acak adul tidak keruan. Si langganan berbalik dan berkata kepada tukang cukur : Saya tidak percaya tukang cukur ada. Kenapa ? Tukang cukur balik bertanya. Lihatlah diluar itu, seeorang yang sangat kusam masih ada. Itu berarti eksistensimu tidak ada, jawab si pelanggan. Tukang cukur membalas : Aku tetap ada. Si Kusam itu ada karena dia tidak datang padaku. Pelanggan menyahut “Exaclty right!” Kau tidak bisa melihat Tuhan ada karena kau tidak datang kepada Nya!

Seseorang akan merasakan Tuhan ada karena seseorang tersebut datang kepadaNya. Datang dengan membawa syukur, membawa permohonan, membawa keluh kesah, membawa kesulitan hidup, dan membawa keter-jepit-an hidup. Semakin seseorang sering datang dan berbicara dengan Tuhan, semakin kuat dan tabahlah orang itu. Jika kekuatan dan ketabahan selalu ada dalam diri, maka kebangkitan dan semangat untuk hidup akan selalu ada dalam celah celah perjuangan hidup. Mari, kita bangkit dan berdiri tegak bersama Tuhan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.
Indonesia, Bisaaaa!! Umat Allah, Bisaaaa!! Antonius Empat, Bisaaaa!! (Kar San)



Monday, April 14, 2008

Minggu Panggilan – Kisah Panggilan Si Semprul

Suatu malam di penghujung tahun 1991. Sepi. Beberapa kali suara anjing dan babi memecah keheningan disuatu asrama. Gerimis tak kunjung berhenti. Angin malam terasa menusuk tulang. Saat itu, Semprul sedang menyendiri setelah lelah belajar diruang kelas. Semprul masuk kamar, mengambil bungkusan plastik hitam yang berisi kiriman potus/snack yang dikirimkan Ibunya dari kampung. Sudah dua bulan ini Ibu dan Bapaknya tidak menjenguknya di asrama karena kesibukan tertentu. Potus itu disembunyikan Semprul dikamarnya karena peraturan asrama yang mengharuskan kiriman makanan harus dimakan beramai-ramai dan dimakan di aula ruang makan. Kacang bawang terasa renyah… tak terasa Semprul sudah menghabiskan beberapa genggam. Setiap kali mengunyahnya, ia teringat Ibu Bapaknya. Sedih rasanya jauh dari orang tua ketika usianya belum juga menginjak 15 tahun. Kesedihan yang sama dengan si kacang yang harus pergi meninggalkan kulitnya…
Asrama itu adalah hadiah Tuhan untuk Semprul. Ketika bapaknya menginginkan ia menjadi seorang gembala Tuhan, ia mengiyakannya. Ketika ia lulus tes dan dinyatakan diterima di asrama, ia menyanggupinya. Seolah panggilan itu nyata dan menggelora dalam dirinya. Malam itu, genap 6 bulan ia melewatkan malam-malamnya ditempat tidur kayu beralas tikar pandan itu. Kutu tikar dibawah bantal tipis yang menemaninya selalu membisikkan “Prul… mantapkah kau menjalani panggilan ini?” disaat ia gundah. Digelutinya kata hatinya. Si Kutu dan Si Kupret tiada henti menguji panggilan Semprul. Hanya Tuhan yang sungguh baik yang memberikan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengevaluasi diri di asrama ini. Terimakasih Tuhan namun si Kutu dan si Kupret selalu saja menggoda kekuatan panggilanmu. Sepertinya panggilan Semprul laksana kacang yang masih muda dan berair, yang akan susut ketika dijemur…
Keputusan meninggalkan asrama adalah keputusan dangkal yang nekat diambil Semprul. Si Kutu dan si Kupret telah menelanjanginya dan membuatnya menyerah! Ia menyesal, menangis dan meronta, dan memohon maaf kepada Tuhan. Sulit rasanya menghilangkan kenangan hidup singkat diasrama itu. Pergolakan iman dan batinnya tak kunjung usai meski ia sudah satu tahun bersekolah disebuah SMA Partikelir. Suatu malam, sama sunyinya dengan 18 bulan lalu, angin yang sama menusuk tulangnya. Kali ini, ia ditemani oleh seskoli minuman api yang telah menggantikan kacang bawang Ibunya. Ia teringat malam di asrama dan berikrar lirih : “Ya Tuhan, maaf telah mengabaikan panggilan suciMu, namun perkenankanlah hambamu yang hina ini untuk tetap setia berkarya, berkarya dan terus berkarya dalam namaMu. Jika bapakku dahulu menginginkan aku menjadi gembala, maka sekarang aku ingin kau jadikan aku sebagai pembantu gembala. Sisihkan sedikit domba bagiku Tuhan agar aku tetap bisa mengikuti jejakMu dan tetap menuntun gembala yang sedikit itu …”
Kini, Semprul sudah dewasa dan memiliki keturunan. Ujarnya kepada Tuhan : “Tuhan ajarkan kepadaku agar aku selalu mendoakan siapa saja –tak terkecuali saudara-saudariku, bahkan keturunanku – agar kelak satu diantara mereka meneruskan panggilanMu untuk berkarya diladang anggurmu”.
Bukalah Buku Madah Bakti No 307 (Lagu : Kami Peziarah), No 456 ( Lagu : Panggilan Tuhan Bagi Umatnya), dan No 465 (Lagu : Aku Dengar Bisikan Suaramu). Cobalah nyanyikan dan hayati baris-demi baris. Lagu dasyat tersebut terasa sangat indah dan menenteramkan hati.
Mari kira dukung misi Minggu Panggilan ini dengan berdoa dan memohon agar tunas-tunas panggilan tumbuh subur dilingkungan gereja kita tercinta. AMIN

End – Dikisahkan kembali oleh Fr. Karyo Sanyoto.